Corat-coret: Meringkas Perjalanan Lima Tahun
Selama seminggu terakhir saya mencoba mengenalkan sudut-sudut Kairo
kepada Abah dan Mama, bergandengan menyeberangi jalanan Kairo yang super ramai,
bersama-sama menertawakan mobilnya yang penyok kanan kiri, memasuki gang-gang
kecil di belakang Masjid Al-Azhar, mengenalkan penjual sayuran langganan saya, menertawakan
Mama yang ketakutan melihat anjing yang berkeliaran, mencoba makanan khas
Mesir, memesan jus kesukaan mereka, saya mencoba merangkum kehidupan lima tahun
saya dalam hitungan hari, saya ingin
Abah dan Mama menjadi bagian dari lima tahun saya disini atau setidaknya saya
ingin mereka tahu bahwa setiap saya melalui gang-gang kecil, jalan yang ramai,
yang sepi, baik saat panas maupun dingin, dalam setiap langkah kaki saya, dalam
setiap detik selama lima tahun yang kami habiskan dengan berjauhan itu. Mereka
selalu ada bersama saya dalam setiap langkah dan pilihan yang saya ambil.
Selain untuk
menghadiri wisuda, saya merasa kedatangan Abah dan Mama bertujuan untuk membuat
hati saya lebih lapang menerima semua yang terjadi, tentang kelulusan,
perpisahan, keharusan meninggalkan Mesir, juga menguatkan saya untuk menghadapi mimpi-mimpi yang menunggu untuk
saya raih. Di hari terakhir mereka berada di Mesir, Abah merangkul pundak saya
kemudian berkata; "Abah bahagia banget punya kalian, kalian anak-anak
Abah yang melanjutkan Abah dan Mama untuk beribadah ke Allah. Kebahagiaan Abah
itu sesederhana ngeliat kamu dan Naja shalat lima waktu tanpa disuruh. Jadi
jangan terbebani untuk jadi orang hebat yang begini begitu ya Kak."
Hal tersebut membantu saya untuk lebih berdamai dengan diri saya sendiri,
membuat saya percaya bahwa saya tidak perlu berkecil hati jika dukungan yang
saya miliki nanti tidak sebesar yang orang lain punya, atau jika nantinya saya
tidak diakui oleh orang lain saya pun tidak perlu bersedih hati, bahkan jika
saya kehilangan banyak hal dalam hidup saya, saya masih memiliki mereka dan bagi
saya itu sudah lebih dari cukup. Jika mereka bisa begitu mencintai dan menerima
saya apa adanya, lantas mengapa diri saya sendiri tidak?
Selama seminggu terakhir ini saya jadi sadar betapa sesungguhnya selama lima tahun terakhir ini kedua orang tua saya begitu pandai menyimpan kekhawatirannya. Betapa mereka juga begitu lihai menyembunyikan kerinduan mereka. Saya jadi lebih memahami mereka pun menerima bahwa mereka juga baru pertama kalinya menjadi orang tua. Bersama mereka saya belajar menemukan kebijaksanaan untuk menerima hal yang tidak bisa diubah dalam hidup saya, pun keberanian untuk mengubah hal yang bisa saya ubah.
Tolong jaga dan sayangi mereka...


Komentar
Posting Komentar