Sebuah Cerpen: Anak kampung

Aku tak pernah mengira bahwa bandara lebih dari sebuah tempat untuk mendaratkan dan melepaskan burung-burung besi. Ia adalah tempat bersua. Siang atau malam suasana disini selalu saja ramai. Aku menguap, sudah lebih dari dua jam aku menunggu disini dan orang yang ku tunggu belum juga menampakan batang hidungnya. Aku menoleh kesebelahku, ada seorang pria separuh baya terkantuk-kantuk di kursinya nampaknya ia juga kelelahan menunggu kerabatnya yang datang entah dari mana. Aku berkali-kali menghidupkan layar ponselku untuk memeriksa jam. Seharusnya pesawatnya sudah sampai sejak satu jam yang lalu.

"Aku kayanya pernah bilang deh, kamu harus beli jam tangan."

Aku menoleh, sedikit tersentak. Adam sudah berdiri disebelahku.

"Kok, tiba-tiba disini?" Dari sekian kalimat sapaan yang aku siapkan yang keluar dari mulutku justru pertanyaan itu.

Ia tersenyum lebar "Lah, terus aku harus dimana?"

Aku terdiam. Otakku masih mencerna bahwa yang berdiri di depanku benar-benar Adam.

"Ng, y-ya udah, ayo." Entah mengapa suaraku mendadak tercekat, pertemuan kembali setelah sekian lama membuat suasana canggung melingkupi kami.

Adam berjalan mendahuluiku. Sudah 5 tahun aku tidak berjumpa dengannya, terakhir aku melihatnya saat wisuda Madrasah Aliyah di kampung kami, dan ia sama sekali tidak berubah.

***

Aku mengenalnya sejak kecil. Kami sama-sama dibesarkan di desa terpencil, desa yang jauh dari kota. Banyak kenanganku dengan Adam. Kenangan kami seperti remah-remah biskuit yang berceceran. Adam itu laki-laki yang pendiam, tapi telaten. Orang tuanya hanya petani serabutan, terkadang ia juga membantu kedua orang tuannya  di sawah atau terkadang ia juga akan dengan senang hati mencari rumput untuk ternak tetangga dengan upah seadaannya.

Sejak kecil kami sekolah di tempat yang sama. Ada kenangan yang membekas dalam ingatan ku saat kami berada di Taman Kanak-kanak. Dulu, aku selalu menangis saat ibuku pergi dari kelas, aku termasuk anak cengeng yang harus ditunggui ibunya hingga lepas sekolah. Tapi ibuku juga harus ke pasar, menjajakan makanan kecil disana untuk membantu perekonomian keluarga kami. Maka setiap hari aku selalu menangis saat ibuku pergi dan Adam akan selalu menghiburku. Ia juga akan menghantarkan aku pulang ke rumah, melewati sawah-sawah, menyebrangi sungai, ia selalu menggenggam tanganku dengan erat sampai rumah. Kadang ibuku akan membawakan Adam sisa jajanan yang tidak habis dipasar, dan ia akan menerimanya dengan wajah sumringah.

Saat SD kami sudah jarang bermain bersama, ia terlalu sibuk dengan ternak-ternak tetangga yang harus ia urus. Tapi, kami selalu bertemu saat mengaji di suaru kampung. Guru ngaji kami bukan ustadz keluaran pondok pesantren, tapi hanya  seorang bapak yang paham Al-Qur'an, fiqih, dan tajwid. Pak Mundjib namanya, beliau orang yang sangat tegas, beliau tidak akan segan memukul anak yang tidak bisa dengan rotan. Hanya Adam yang tidak pernah terkena sabetan rotan Pak Mundjib.

Saat mendekati ujian kelas 6, aku mendapat kabar bahwa ayah Adam meninggal karena jatuh dari pohon saat menggarap kebun orang. Aku melihat sendiri bagaimana kesedihan itu menggelayut di halaman rumah Adam hinga bertahun-tahun lamanya. Saat duduk di bangku MTS aku sama sekali tidak pernah melihat Adam kecuali disekolah. Ia duduk di bangku paling belakang, tidak pernah banyak bicara, selepas sekolah ia akan sibuk dengan ternak-ternak, mencari kayu bakar, apapun yang menghasilkan uang, Adam akan berkutat disana.

Hingga memasuki Madrasah Aliyah, Adam masih berjuang membiayai sekolah dengan segala hal yang mampu ia kerjakan. Aku juga sibuk membantu ibu berjualan dipasar. Di tahun itu, Pak Mundjib sudah sangat sepuh dan renta hingga beliau menunjuk Adam untuk menggantikannya mengajar di surau. Maka selepas pulang sekolah Adam akan berkutat dengan ternak, dan menjelang sore Adam akan bersiap untuk mengajar di surau mengganti pakaian lusuhnya dengan sarung dan baju koko putih bersih. Terkadang aku tidak sengaja melihat Adam sedang mengajari anak-anak kecil itu mengaji, rotan yang kerap Pak Mundjib pakai tergelatak disisinya. Ia mengajar dengan cara yang berbeda. Di tahun itu juga, Adam kehilangan ibunya.

Dikampung tempat ku tinggal. Aku dan Adam termasuk anak yang beruntung karena masih banyak anak yang hanya lulus SD, bahkan tingkatan paling tinggi hanya duduk di bangku SMP. Semua karena terbentur biaya. Dan aku? Bukan karena aku anak orang kaya, tapi sejak SD nilai-nilai ku cukup memuaskan hingga aku mendapatkan beasiswa. Begitupun Adam. Meskipun dengan kesibukan yang Adam miliki nilai rata-rata bahkan jauh diatasku.

"Kamu perempuan yang pintar, Nay."

Kami duduk di tepi sawah siang itu. Ibu memintaku membawakan Adam sedikit jajanan. Setelah hidup sendiri tanpa orang tuanya, ibuku sering mengirimi Adam makanan. Sejak saat itulah secara tidak langsung kami jadi sering mengobrol banyak hal. Salah satunya siang itu.

"Kamu harus merangkai masa depanmu." Tangan Adam mencomot makanan diplastik yang aku bawa. Bajunya penuh dengan lumpur. Hari ini ia menggarap sawah.

"Setelah lulus Aliyah, mau kemana?"

Aku menghela nafas "Membantu ibu dipasar." Tidak ada pilihan lain.

"Kampung ini terlalu kecil untuk menyimpan banyak impian perempuan pintar seperti kamu, Nay. Jika kamu disini, kamu cuma mengikuti siklus perempuan desa lainnya. Menikah, hamil, melahirkan, menggendong anak, berkutat didapur, menunggu suami. Memendam diri disawah. Itu juga kalau kamu beruntung, Nay."

"Jika kamu menikah dengan laki-laki tidak bertanggung jawab?" Lanjut Adam, ia seperti menerawang kedepan.

"Kamu sendiri? Kemana?" Tanyaku.

"Aku ingin pergi dari Indonesia."

Aku mengerenyit saat mendengar ucapannya saat itu. Adam terdiam sejenak, tangannya sibuk mencabuti rumput disekitar kami duduk.

"Ikut aku, Nay."

"Kema-"

"Raih impian kita, Nay." Adam memotong kata-kataku.

Saat itu aku hanya terdiam. Bagaimana caranya? Satu-satunya impianku hanya lulus Aliyah dan membantu ibu agar kami sekeluarga bisa makan setiap hari.

"Kita buktikan bahwa orang kampung seperti kita bisa." Aku masih ingat tatapan membara Adam hari itu.

"Bahwa perempuan kampung seperti kamu juga bisa. Jangan diam di kampung ini, Nay."

Entah bagaimana caranya. Hari itu, Adam berhasil meyakinkanku.

***

Jadilah selama tahun terakhir kami disekolah, kami sibuk mempersiapkan diri. Beruntungnya orang tuaku mendukung semua keputusanku. Adam ingin pergi ke Jepang. Ia ingin belajar bagaimana negara maju itu bertani. Sedangkan aku sendiri mengincar Universitas Indonesia, aku tidak ingin jauh-jauh dari bapak dan ibu. Pergi dari desa saja sudah merupakan keajaiban bagiku.

Kuliahku terbilang lancar meski terkadang aku kelelahan karena membagi waktu karena aku juga harus bekerja. Beberapa kali aku juga berkomunikasi dengan Adam, tidak sering karena jarak Jakarta dan Jepang menghabiskan banyak pulsa internet yang mahal. Keadaan Adam juga tidak jauh beda, dia juga sering kelelahan. Kami sama-sama berjuang.

Hingga Adam meneleponku untuk menjemputnya di bandara, saat ini aku sudah berkerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Aku juga sudah beberapa kali pulang ke kampung. Merenovasi rumah kecil kami. Penghasilanku lebih dari cukup. Impianku juga terwujud.

"Nayla, kamu ingatkan kita darimana?"

Kami sudah duduk disalah warung pinggir jalan. Adam bilang penerbangan tadi membuat kepalanya sedikit sakit. Ia ingin minum kopi pahit.

"Kampung."

Adam tersenyum. "Kita dari kampung kecil, Nay. Kampung yang selalu mengingatkan aku untuk berbuat baik. Jangan sombong, kamu hanya anak kampung. Jangan malas, kamu hanya anak kampung."

Adam terdiam sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Dengan segala pencapaian yang kita punya, kita harus tetap ingat untuk tetap rendah hati."

Aku mengangguk.

"Harus tetap pulang ke kampung, Nay. Mereka butuh kita untuk membangung kampung kita." Adam menyeruput kopinya.

Aku hanya bisa mengangguk. Mengiyakan.

"Dam, di sini ada Coffea shop yang enak loh." Kenapa diantara tempat minum kopi, Adam memilih warung pinggir jalan ini.

Adam tertawa kecil "Aku kangen warung begini, Nay. Lagian bukan dimananya. Tapi, dengan siapanya."

Kairo, 06 April 2020
           
     

Komentar

Postingan Populer