Menjadi Anak Pertama yang "Sempurna"

—Ditulis setelah mendengar "Mesra-mesranya kecil-kecilnya" oleh Sal Priadi.

Aku sudah berada jauh dari rumah bertahun-tahun lamanya, memulai masa remaja jauh dari pantauan orang tua. Tahun-tahun yang cukup menyenangkan, fokus belajar tanpa dituntut dengan pekerjaan rumah.

Enam tahun berada di Pesantren membuatku sadar bahwa selama jauh dari rumah hanya kabar-kabar baik saja yang akan sampai ditelingaku. Mama, Abah, menyimpan begitu banyak sakit diantara mereka berdua, menyelesaikannya tanpa melibatkan aku dengan dalih agar tidak menganggu fokus belajarku. Banyak hal yang disembunyikan. Enam tahun yang menuntutku untuk lebih paham dengan kekhawatiran orang tua. Mulai memahami pembicaraan berat yang mereka diskusikan.

Aku pergi lebih jauh dari rumah pada tahun pertama perkuliahanku. Merasa bersalah melanglang-buana di negeri orang. Mama bilang ikhlas. Abah juga mendukung dengan antusias. Tapi, sepanjang perjalananku aku selalu bertanya-tanya pada diri sendiri "Jika dirumah ada masalah, pada siapa mereka bercerita?" atau "Jika mereka berdua dirundung kesusahan, siapa akan membantu?" Ditambah tahun itu Naja pun memasuki tahun pertama di Pesantren. Aku di Mesir. Mama di Pemalang. Naja di Brebes. Abah di Jakarta. Satu keluarga sempurna terpisah di empat kota berbeda.

Sebagai anak pertama, aku selalu harus dewasa lebih awal. Meski jauh dari rumah bukan berarti kewajiban sebagai si sulung kuabaikan begitu saja. Hampir setiap hari kukirimi pesan untuk Mama dan Abah untuk menuntaskan 'kewajiban' itu meski sekedar bertanya "Ngapain aja hari ini, Ma?" atau "Abah jangan lupa makan ya." Aku hanya tidak ingin mereka kesepian dan aku juga selalu ingin mereka berdua terhubung dengan keseharianku.

Seminggu sekali kuluangkan waktuku untuk menelepon Mama. Aku akan mengawalinya dengan pertanyaan "Mama sehat?", atau "Mama masak apa hari ini?", atau "Di rumah lagi ramai sama cerita apa?", atau "Naja udah telepon, Ma?" Maka Mama akan menceritakan semuanya, aku menjelma kawan lama bagi Mama. Kawan untuk menertawakan gosip remeh temeh selebritas. Menceritakan hasil panen di ladang. Ayam ternak di belakang rumah yang bertelur. Sebagai sesama wanita, Mama akan bercerita lebih luwes dan jujur. Aku akan bercerita kehidupan disini setelah Mama menyelesaikan semua ceritanya. Salah naik bus, ditahan petugas keamanan Rumah Sakit, menunjukan buah-buahan yang sedang musim disini. Lalu, biasanya Mama akan minta aku mengulang nasehat yang kudapat dari Syekh tempatku mengaji. Pun begitu, porsi cerita Mama akan selalu lebih banyak. Akan lebih banyak nasehat yang kudapat dari Mama.

Dilain hari, aku akan menelepon Abah. Aku akan bertanya seputar pelajaran di perkuliahan, pembicaraan kami akan beralih membahas berita yang sedang ramai disini, lalu Abah akan menyahuti dengan isu politik yang sedang hangat di Indonesia, membahas permasalahan ekonomi. Jika kehabisan topik, aku akan mulai berkeluh kesah tentang proses daftar ulang yang membutuhkan waktu mengantri lama, tentang kalimat 'bukroh' yang menyebalkan, culture shock yang masih saja aku alami sampai saat ini. Abah akan memberikanku semangat juga pesan agar menjadi manusia baik yang bijak.

Kalau waktunya tepat, aku akan bertukar pesan dengan adikku yang berada di Pesantren, fasilitas internet begitu katanya. Meski ia laki-laki, aku juga tidak ingin melepaskan Naja memendam cerita sendirian. Aku akan membahas buku yang terakhir ia baca, menanyakan kegiatannya di sana "Apakah ada kesulitan atau tidak?", sesekali aku akan memberi pendapat ketika ia menyinggung persoalan tentang batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Sesekali ketika liburan tiba Naja akan menceritakan apa yang ia simak secara langsung di keluarga dan aku menenangkannya untuk bersikap selayaknya anak umur 13 tahun lainnya agar tidak perlu merisaukan apapun "Biar kakak yang bantu urusan Abah dan Mama." Naja bagai pengawas lapangan yang sedang berjaga, hal itu membuat komunikasi kami lebih transparan. 

Begitulah, kurasa tangan anak pertama harus lebar. Menjangkau Mama, mendekap adik, pun menyemangati Abah. Memberikan mereka porsi yang sama. Sebuah hal yang berat, tapi cukup bisa diusahakan. Berbohong jika kukatakan aku berhasil menjadi si sulung yang sempurna, rasanya masih jauh. Sering merasa gagal, sangat sering. Aku hanya melakukan yang bisa kulakukan, apa yang bisa diusahakan sedang kuusahakan. Hanya itu mampuku.

Pun begitu. Aku sadar betul bahwa entah itu anak pertama, kedua, ketiga, atau si bungsu sekalipun, ia memiliki peran dan tanggung jawab yang sama besar.


sumber: magdalene.co




Ba, sementara

Kita mesra-mesranya

Kecil-kecilan dulu, ya

Tunggu sampai semua mereda…

Koleksi perasaan-perasaan yang baik

Cinta besar-besaran

Meski mesranya kecil-kecilan

(Mesra-mesranya kecil-kecilan dulu – Sal Priadi)


Komentar

Postingan Populer