Corat-coret: Belajar untuk Hidup di Masa Sekarang dan Sang Kesatria Penunggang Kuda
Hai, maaf, lama tidak menyapamu dan mengunjungimu. Lama tidak menulis. Lama tidak berbicara denganmu. Jadi, apa kabar? Bagaimaan perasaanmu? Bagaimana keadaanmu setelah wisuda dan pulang ke Indonesia? Apakah harapanmu sesuai dengan kenyataan saat ini?
Ketika mendekati hari wisuda, isi kepala saya dipenuhi banyak kemungkinan-kemungkinan, skenario terburuk, solusi tercepat dan hal-hal abstrak lainnya. Sudah barang pasti ada bahagianya, namun setelah diingat kembali, lebih banyak kekhawatiran dan perasaan takut yang menghinggapi. Sebab, bagi saya, kelulusan, wisuda, dan pulang ke Indonesia bukanlah akhir dari perjalanan saya, melainkan awal dari segalanya. Hidup saya baru benar-benar akan dimulai dari sana.
Hampir satu tahun tidak berjumpa, tidak banyak yang berubah, saya tetap menjadi seseorang yang ketika bertemu orang baru, masih kebingungan untuk menunjukan diri saya sebagai entitas yang seperti apa, hingga rasanya sulit menyebutkan siapa nama panggilan saya. Saya masih canggung. Masih kesulitan untuk menjaga agar percakapan terus berjalan sebagaimana mestinya. Masih senang menunda pekerjaan.
Saya masih orang yang sama, yang memilih meringkuk di kamar ketika perasaan saya sedang tidak baik-baik saja, menutup diri dari banyak orang agar keesokan harinya bisa tetap tersenyum lebar. Masih senang mengeluh atas hal yang remeh-temeh. Saya masih takut mengecewakan orang lain. Masih kesulitan untuk berkata tidak. Masih terlalu perasa. Saya masih sulit untuk mengaku salah. Masih menyukai hal-hal lucu, kelinci putih yang terbang ke bulan, kaus kaki warna-warni, snack dengan bungkus kartun favorit, atau setumpuk stiker beraneka bentuk.
Kepala saya masih sering memproyeksikan gambaran masa depan yang luar biasa, tapi kaki dan tangan saya kini justru terjebak tidak bisa pergi kesana. Lalu setelahnya muncul pertanyaan yang sama dalam benak saya, sebenarnya sejauh mana kaki-kaki saya bisa berlari? Atau setinggi apa kaki-kaki saya bisa melompat? Rasanya saya sudah terlalu kelelahan. Bahkan ketika saya belum memulai apa-apa.
Katanya, agar bisa bahagia, kita harus mencoba hidup sepenuhnya di masa sekarang, mensyukuri setiap hela nafas yang kita ambil, menyadari setiap langkah yang kita ambil, menikmati sepotong kue ketika waktu istirahat tiba, segelas kopi di pagi hari, mengobrol dengan orang favorit kita, belajar untuk menyeimbangkan pikiran dan semua emosi yang kita rasakan.
Selayaknya kesatria penunggang kuda yang menyeimbangkan dirinya ketika melintasi padang sabana luas tak terkira, selama cuaca dan jalur perjalanannya mendukung, maka, sang kesatria juga akan melewatinya dengan kendali diri yang sempurna. Namun jika tiba-tiba ada suara dari hewan lain yang muncul mengganggu, maka sang kesatria akan kesulitan mengendalikan kudanya, memaksanya untuk berpegangan erat-erat demi menjaga keselamatannya.
Tidak pernah ada jaminan bahwa hidup kita akan selalu bahagia, tapi setidaknya hidupmu tidak akan berlalu begitu saja. Karena, yang kita miliki adalah hari ini bukan kemarin ataupun esok hari.
Selama kita sadar menjalaninya, mensyukuri tiap detiknya, menyeimbangkan akal dan emosi kita, semuanya akan baik-baik saja.
Tanganku yang berapi-api
Diciumnya tanpa banyak pikir
Belum pernah aku menghidupkan sesuatu
Tapi di tanganku engkau tumbuh
—Nadin Amizah, Tapi diterima
Meski berat, kita jalani sama-sama ya.
Nb: Rasa rasanya setelah dituliskan, lho segini doang toh masalahnya. Masalah yang menimpa saya akhir-akhir ini menjadi terlihat sangat sepele. Terkadang memang bukan dunia yang keras, tapi kamu yang terlalu lemah, wkwk
Salam hangat,
sehangat nasi yang baru matang
—Anyyatul.M

Komentar
Posting Komentar