Corat-coret: Koral Warna-warni, Pantai Pasir Putih, Serta Samudera yang Tak Terbatas
Hai, perjalanan yang cukup melelahkan ya?
Boleh jadi di perjalanan kali ini aku hanya jadi peran pembantunya, tidak sering muncul di layar, merapikan depan belakang, mengurusi anak-anak di sebelah kanan kiriku. Pada akhirnya, aku hanya sibuk mengumpulkan remah-remah kenangan indah yang tersisa, sebisa mungkin ketika luang aku akan merekam tiap-tiap hal kecil yang kutemukan di sudut jalan. Perahu nelayan yang bersauh, penjual ikan, buih ombak yang timbul lantas hilang, dua ekor monyet nakal, segelas es kelapa gula aren, menikmati cahaya yang mengintip lantas memantul di lautan luas yang banyak menyimpan rahasia dan cerita, semuanya berkelindan, indah, serta menghangatkan jiwa.
Sebagai orang yang terbiasa bolak-balik melewati jalur utara, perjalanan kami ke sisi selatan Jawa yang berkelok-kelok serta melewati tanjakan dan turunan yang seolah tak mau kalah dengan pemandangan pepohonan hijau, tebing, dan jurang dikanan kirinya itu, boleh jadi membuat perjalanan kali ini akan menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan, kapok lebih tepatnya, haha. Konon katanya jalur yang menghubungkan Priangan Timur, seperti Garut, Tasikmalaya, hingga Ciamis ini dibangun untuk mendukung distribusi pada masa pemerintahan Belanda yang kala itu dipimpin oleh Jendral Herman Willem Deandels. Jalur itu dibangun dengan dua simpangan lajur yang ikonik, dengan bagian kanan mengarah ke Garut kota, dan bagian kiri mengarah ke Tasikmalaya dan sekitarnya, menjadikan jalur ini legendaris, bahkan hingga masa sekarang.
Sejujurnya ketika pertama kali mendengar bahwa kami akan mengunjungi Pangandaran, hal pertama yang terbesit di benakku adalah kenyataan bahwa aku sebenarnya tidak menyukai lautan. Bagiku ada terlalu banyak hal menakutkan yang bisa terjadi disana, misteri tak terungkap, kisah tak terselesaikan, juga hal-hal yang kurang menyenangkan lainnya. Ditambah lagi sesampainya disana aku mendengar debur ombaknya yang sangat keras, seolah-olah ia siap menyeret siapa saja yang menghalangi jalannya. Siap meluluhlantahkan pesisir. Membuat manusia beruraian air mata dan hanyut ke dalam kesedihan. Adegan Raja Agnarr dan Ratu Iduna dari Arendelle yang menghilang di tengah badai pun secara tidak sengaja ikut meramaikan isi kepalaku. Menyeramkan. Setidaknya begitulah isi kepalaku membayangkan perihal lautan.
Jika boleh kita mengingat lagi, sisi selatan Indonesia merupakan salah satu tempat seismik teraktif di dunia. Bahkan tercatat sudah ada 36 tsunami yang terjadi di seluruh pesisir Hindia Timur sejak abad ke-16. Begitulah kiranya isi artikel yang kubaca di National Geographic setelah pada tanggal 22 Oktober 2024 kemarin gempa bermagnitudo 5.0 melanda Pangandaran dan sekitarnya. Tepat ketika aku berada disana, di dekat pusat gempa terjadi. Tanganku bergetar ketika pertama kali merasakan dataran dibawahku bergerak, lalu pikiranku terlempar pada suatu masa di hari akhir nanti, ketika bumi menyampaikan berita tentang apa-apa yang diperbuat manusia diatasnya, ketika gunung-gunung menghamburkan isinya, ketika seorang Ibu bahkan melupakan bayi yang berada dalam kandungannya. Kiranya akan sedahsyat apa nanti? Semoga kita semua terhindar dari peristiwa tersebut, Aamiin.
Boleh jadi perjalanan kali ini akan menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan bagiku, meski pada kenyataannya lautan dan dataran pesisir mengingatkanku pada banyak ketakutan-ketakutan yang mengendap dibawah alam sadarku. Namun, tidak bisa aku pungkiri juga ada banyak keindahan yang disuguhkan disana. Menghirup udara laut yang menyegarkan, merasakan ombak yang menggelitik jemari kakiku, memandang air laut yang perlahan surut menyisakan pemandangan FV Viking Lagos dari Norwegia yang tergeletak di bibir pantai barat Pangandaran. Kapal besar itu tidak bergeming dihantam debur ombak dari segala penjuru, dindingnya yang penuh karat terlihat begitu mencolok diantara pasir pantai yang putih, kabinnya yang dahulu ramai kini berubah dingin dan gelap, sudut-sudutnya menjelma rumah bagi biota laut warna-warni. Ia eksotis dan indah. Sebuah saksi bahwa sifat tamak manusia itu nyata adanya dan perlu dilawan.
Bagiku Pangandaran memberiku banyak ingatan yang menyenangkan, memberiku waktu untuk embali menyelami diriku sendiri. Bahwa diri ini ternyata jauh sangat kecil di bumi Allah yang sangat besar ini, sebab seperti halnya menyelami lautan, adakalanya kutemukan banyak hal dalam diriku, spesies ikan beraneka ragam, koral warna-warni, juga beberapa moluska indah. Namun, terkadang semakin dalam aku menyelami diriku, yang kutemukan hanyalah lautan minim cahaya, sinar ungu nila, biru toska, hijau, kuning, dan merah muda milikku bisa habis tak bersisa. Sementara itu, meski sekujur tubuhku mulai gelap gulita, kaki tangaku tetap harus bergerak-gerak. Bertahan, agar tidak kehabisan daya. Maka ketika saat itu tiba kutemukan bahwa diri ini tidak mampu berbuat apa-apa tanpa pertolongan-Nya.
Bagiku Pangandaran memberiku banyak pelajaran, terutama pantainya, selayaknya pantai yang bersabar menerima besar kecilnya ombak yang menghantamnya, aku pun akan berusaha untuk sabar menemani dan mengenali setiap luka dan suka yang ada pada diriku, bertahan untuk memelukku meski hanya sendirian, berjanji untuk selalu tersenyum bahagia, selalu bangga dengan diriku yang paling apa adanya. Sebab palung laut yang terdalam dan gelap gulita pun memiliki perannya sendiri, menjadi tapal batas terakhir planet ini. Menjaga kestabilan iklim bumi.
Oh iya, aku kasih kalian rekomendasi kopi yang enak di Pangandaran, ya...
Cafe Hello Beach, menunya Es kopi susu Asep13, kalo kamu suka rasa yang klasik, kopi ini hadir dengan sentuhan aroma rempah kayu manis.
Selamat mencoba!

Komentar
Posting Komentar