Sepertinya Aku Bisa Menyayangi Orang Ini Selamanya
Hampir genap dua tahun aku menjadi guru dan aku punya ratusan cerita untuk dibagi tentang anak-anak remaja yang berhasil membuat hari-hariku seperti berlari seharian mengejar mereka kesana kesini, satu waktu kami bisa berbagi cerita dan tertawa layaknya teman sebaya, satu waktu lainnya sikap dan keputusanku sebagai guru berhasil mengubah warna-warni mereka menjadi awan gelap yang akhirnya menurunkan hujan dan petir di kepalaku.
Ditangan mereka aku diajak merayakan hidup dengan sejujur-jujurnya dan setulus-tulusnya, dengan cara yang amat sederhana. Beberapa dari mereka lahir dari keluarga cemara dengan membawa gelas kasih sayangnya yang penuh dan ikut menularkan kebahagiaan yang juga sampai ke tanganku juga jiwaku. Sebagian kecil adalah mereka yang baru mencapai gerbang sekolah pada pukul delapan pagi, seragam kusut, buku yang tidak lengkap, tinggal bersama saudara dengan hati yang menyimpan banyak pertanyaan untuk ayahnya yang juga entah berada dimana, pendiam, dan ikut membuat hatiku sedih, tanganku ikut membiru, menepuk pundak mereka pun belum mampu, aku berusaha menggapai-gapai mereka, namun usahaku harus dua kali lebih keras untuk memeluk mereka.
Bersama anak-anak ini rasanya seperti tumbuh dengan perlahan, meski pada beberapa bagian aku juga kesakitan dan ikut babak belur sendirian. Rasanya seperti tinggal di sebuah ruangan berantakan yang minim cahaya, bangkunya terbalik disana sini, buku-bukunya berdebu, mejanya tidak beraturan. Aku berhasil bangkit untuk membersihkan satu sudut setiap harinya, namun secara bersamaan berantakan juga sudut lainnya, yah meski begitu, mau tidak mau, ruangan itu harus aku tempati setiap hari.
Lalu, di sebuah selasa yang terik di tengah seremoni tahunan guru yang hampir membuatku muak dan hampir-hampir saja aku kabur ke ujung dunia lain, ada manusia baru yang entah datang dari mana masuk ke kepalaku yang berantakan itu. Ia mengucapkan satu kalimat yang entah kenapa berhasil menyejukkan isi kepalaku dan dengan senang hati masuk ke dalam ruangan yang penuh meja tidak beraturan itu. Ia tidak merapikan apapun tapi, dengan kedatangannya, aku dengan selembut-lembutnya merapikan isi kepalaku sendiri. Ia tidak membersihkan debu-debu yang berada disana dan meski katanya dia alergi debu, ia tetap datang dan ikut menemaniku membersihkan ruangan itu.
Mungkin dia adalah pasukan khusus yang dikirim Tuhan untukku. Mungkin dia adalah cahaya kecil yang dititipkan untuk menyingkirkan bayang-bayang gelap di hatiku. Mungkin ia adalah hujan lembut yang menyejukkan bumi setelah panas terik yang lama menyengat. Atau bahkan mungkin dia adalah bunga kecil yang muncul diantara semak belukar yang tumbuh rimbun di pekarangan belakang rumahku, dan membuat senyumanku mekar seiring keberadaanya. Lalu kalimat itu akhirnya kuucapkan:
“Ah, sepertinya aku bisa menyayangi orang ini selamanya.”
Sebab sepertinya dunia yang ada aku dan dia di dalamnya terasa menyenangkan, dunia yang ada aku dan dia di dalamnya tiba-tiba menjelma menjadi apa yang aku butuhkan. Menyayangi tanpa kusadari berubah menjadi kegiatan yang memberanikan, melembutkan hatiku dengan sejadi-jadinya. Rasanya aku ingin mengisi kepalaku dengan hal-hal paling indah di dunia saja, langit senja yang memerah, rintik hujan pertama, tawa yang jatuh tanpa sengaja, bukan lagi sarang laba-laba yang dingin atau kursi yang jumpalitan lagi. Aku sendiri bingung kekuatan apa yang dia punya.
Dan andai dia tahu, bahwa setiap hari aku berharap doa-doaku menjelma cahaya, menerangi setiap langkah yang ia tempuh. Bahkan jika seluruh cahaya dunia berada dalam genggamanku, akan kupastikan jalannya selalu terang, akan kuberikan semuanya, dengan cuma-cuma tanpa diminta, semoga terang jalannya di mana pun bumi menyentuh telapak kakinya, bahkan jika ada duri di jalan yang berhasil ia lewati tanpa berdarah-darah kakinya, mungkin itu termasuk andil dari doaku. Atau mungkin jika cerah harinya diantara hari-hari hujan itu dan hangat yang ia rasa, mungkin itu juga termasuk andil dari doaku. Mungkin.
Ah, sepertinya aku akan menyayanginya selamanya, bahkan jika timur dan barat ditukar, atau utara dan selatan dipindahkan, sepertinya aku akan tetap menyayanginya. Tapi, mungkin dia tidak akan menyayangiku. Bisa jadi.
Jadi, di tengah riuh dunia yang ramai dan kacau ini. Bagaimana? Mau tidak menyayangiku?
Love always, Ann.


Komentar
Posting Komentar