Corat-coret: Kematian Kedua


—sudah mengering tubuhmu dipeluk musim dingin yang datang lebih awal dari janji temu. sudah habis air matamu. sudah kau rasakan kematian dari mimpimu yang susah payah kau besarkan itu, kematian sadis lebih dari yang bisa kau bayangkan. sudah habis harapmu sebab dihujani tatapan tajam mata-mata; dari balik tembok tinggi penjara itu.


Aku kerap membayangkan; sesuatu yang mustahil kuwujudkan.

Aku membayangkan tidak punya tanggung jawab apa pun terhadap orang lain. Tidak punya kewajiban apa-apa kecuali merawat diri sendiri. Tidak punya janji-janji. Tidak punya koneksi dengan manusia. Tidak bersangkut-paut dengan negara, apalagi kepemerintahannya. Aku mengembara jauh, jauh sekali, sampai tahap aku tak tahu sedang berada di mana. Aku ingin mengetahui letak paling dasar sebuah kesunyian, keheningan, atau lebih dari itu, letak diriku.

Aku hidup seorang diri, jauh dari peradaban manusia dengan berbagai macam pola hidupnya, sejarahnya, dan sebagainya, dan sebagainya. Dalam kesendirian, aku cuma merasa hidup hari ini. Tidak di masa lalu, apalagi di masa depan. Masa lalu telah terkubur jauh dan tak pernah kujadikan cermin untuk hari ini atau hari depan, karena hidup sendiri selalu tidak memerlukan penilaian. Masa depan tidak pernah kuanggap, karena aku tidak perlu punya harapan. Di pikiranku tidak ada mimpi-mimpi. Tidak ada ekspektasi.

Aku menyusuri keterasinganku. Menerobos ketakutan-ketakutanku. Menjawab pertanyaan paling purba di dunia, di mana letak dasar rasa bahagia. Namun yang kutemui kini adalah, aku bahkan tak lagi mengerti hari ini aku hidup untuk siapa. Aku berkaca, menilai diri, yang semuanya berasal dari perkataan orang-orang. Aku harus sukses, pintar, prestasi mentereng, karir gemilang, terbang tinggi, bahkan melebihi ekspektasi diri sendiri. Aku yang tidak berdaya atas perkataan orang-orang itu, dengan sangat tersiksa mengikutinya. Dan, ya, tetapi aku tetap menyukai penyiksaan itu. Aku menyukai sesuatu yang sangat berbahaya yaitu kehilangan diriku sendiri. 

Aku membayangkan sesuatu yang mustahil kuwujudkan, bukan? 

Mesku begitu, diriku menyadari bahwa tiap manusia memiliki waktunya masing-masing untuk mekar dengan indah. Meski tahun ini musim dingin di hatiku hadir lebih dulu, namun bukan suatu hal mustahil untuk menunggu matahari juga hangatnya suka cita yang menyebarkan kalimat-kalimat bahagia, bukan? 

Aku tahu dunia akan tetap berputar dan lebam yang terlanjur membiru tidak akan semudah itu sembuh, sementara kepalaku mungkin akan semakin nanar dengan luka-luka yang menganga sedari lama, juga ketakutan tak terhitung yang mungkin akan terus hadir bersama degup kencang dan sarung bantal basah di setiap malamnya. 

Tidak apa-apa. 

Hidup ini bukan hanya tentang sekelompok orang yang mematahkan impian, melainkan tentang bagaimana diri ini bisa teguh memegang mimpi itu meski badai menerjang di kanan kiri. Ibuku bilang, manusia bukan pihak yang menentukan akhir perjalanan, melainkan Tuhan yang menentukan pilihan terbaik untuk hambanya.

Sampai nanti, hingga akhirnya kutemukan gerbong kereta yang menghantarkanku menuju mimpi-mimpiku. Hingga nanti tidurku tidak lagi soal kebencian tak terukur, hal-hal menyebalkan, dan perasaan ditinggalkan. Sampai nanti tiba saatnya jejak kakiku beranjak dari masa lalu juga tanggung jawab yang membebaniku, hingga nanti kesedihan hanyalah sekian halaman yang sudah terlewati. Aku akan terus berjalan, perlahan-lahan, tanpa penyesalan, tanpa kekecewaan. Aku akan terus tersenyum dengan hati lapang penuh penerimaan, seperti yang Abah ajarkan. Tak perlu pengakuan orang lain, selalu merendah, membumi, sederhana, bersahaja. 

Tak perlu pengakuan orang lain, selagi Allah melihat. Itu sudah cukup.

Hari ini, kau berdamai dengan dirimu sendiri
Kau maafkan
Semua salahmu ampuni dirimu
Hari ini, ajak lagi dirimu bicara mesra
Berjujurlah
Pada dirimu, kau bisa percaya
Maafkan semua yang lalu 
Ampuni hati kecilmu
Luka, luka, hilanglah luka
Biar tentram yang berkuasa
Kau terlalu berharga untuk luka
Katakan pada dirimu
Semua baik-baik saja
(Tulus— Diri)









Komentar

Postingan Populer