Corat-coret: Kematian Pertama
Sejak beberapa hari lalu aku memikirkan tentang sebuah keputusan besar yang pernah aku ambil dalam hidupku. Lantas menimbang dan memikirkan dampak apa yang akan aku terima ketika aku menyampaikannya ke publik. Apakah nanti isi kepalaku semakin riuh atau tetap seperti biasanya, apakah mereka yang membaca merasa perlu mengetahuinya, atau akankah tulisan ini akan menjadi bumerang dan menggores luka lain di kemudian hari. Entahlah, aku hanya ingin mengabadikan momen ini. I think, I reached lowest state in my life.
Sebab, sampai detik ketika aku menulis ini, ada sebuah keputusan yang belum aku yakini kebenarannya. Dan apakah benar hidupku akan sepenuhnya berubah karena keputusan itu? Sebab, tiga tahun lalu, sejak sebuah keputusan telah kuambil, rasanya bukan malah mensyukuri keputusan itu, diri ini justru lebih banyak menyesalinya.
Kepalaku terlalu sering riuh dengan banyak penyesalan dibanding memikirkan masa depan. Isi kepalaku lebih suka berjalan mengunjungi hari-hari yang telah lalu di banding menentukan pijakan, waktuku habis hanya dengan mencari validasi bahwa aku berhak atas hidup yang kujalani, lantas tahun kedua habis untuk melihat ke dalam diri sendiri bahwa setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencari jalannya, dan hari-hari setelahnya seringkali berisi penyesalan serta tangisan-tangisan tanpa suara di hari-hari cerah tanpa siapa-siapa. Kepalaku juga kerap membicarakan kalimat "Everyone has their own way, and that's okay." Lantas lebih sering merenungkan keadaan, bahwa kejadian kali ini menjadi hal yang harus diwajarkan.
Tiga tahun berlalu banyak hal yang terjadi, juga banyak hal yang bisa dipelajari. Aku menyadari bahwa setiap orang yang datang ke kehidupanku beberapa menjadi pembelajaran atau juga jadi sebuah penghakiman, begitu pun aku—di kehidupan orang lain—entah menjadi apa. Tentu saja, ada hari-hari penuh tangis mengapa harus begini, mengapa mereka begitu, mengapa aku dahulu begitu, dan lain sebagainya. Tetapi bukannya, memang begitu seharusnya kehidupan berjalan?
Rasanya jika mendengar "Enak ya kamu, udah ini, itu blablabla.." setiap kalimat itu dilontarkan rasanya ada sebuah belati tajam juga yang ikut menghujam ke hatiku. Semakin banyak orang datang mengunjungiku semakin berdarah dan rasa perihnya ikut menyebar ke sekujur badan. Apa yang orang lihat tidak selamanya indah, bukan?
Keputusan ini mengajarkanku untuk lebih mendengarkan diri sendiri. Mengajarkanku untuk lebih sering melihat diri sendiri, membaca kembali segala hal yang hendak disampaikan, memaafkan, menerima bahwa suatu kali boleh jadi kita lah yang menyakiti, kita yang menjadi duri, kita yang memang harus pergi; menarik diri untuk mencari tempat yang lebih pas lagi. Bahkan jika bukan kita yang menyakiti, kita masih berhak pergi, jika dirasa semua yang di luar kendali mulai menyakiti. Untuk apa bertahan jika hanya semakin berdarah luar dalam?
Namun, introspeksi selalu perlu dilakukan, selalu ada cara untuk belajar melakukannya. Sebab sebagai manusia, terkadang aku sering bersikap denial atau justru malah menyalahkan diri sendiri. Jika berada di posisi ini yang bisa kulakukan adalah mengingat betul-betul sudah melakukan apa saja, jika dirasa kesalahan ini bukan karena diri sendiri, aku selalu berusaha untuk tidak merasa bersalah, pun kalau ternyata aku salah, aku selalu siap untuk meminta maaf. Jika ini adalah kesalahan fatal yang tidak bisa diperbaiki, it's okay people come and go, jadi ya sudah, selesai. Ya, karena pada akhirnya kita tidak bisa membahagiakan semua orang, mereka akan tetap datang dan pergi, dan itu gak apa-apa.
Tapi, untuk kali ini, untuk kebaikan diriku, untuk kesehatanku rasanya memutus komunikasi adalah cara terampuh, sebab kesalahan belum kutemukan titiknya dimana, kepalaku terlalu riuh sampai rasanya air mataku selalu berdesakan ingin keluar, harga diri dan kepercayaan diriku sedang dipukul habis-habisan, kali ini validasi atas kebenaran yang kubangun hancur berkeping-keping. Aku pamit sebentar, sebulan untuk mengistirahatkan pikiranku. Kusebut ini sebagai kematian pertamaku.
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar