Cara terindah menutup akhir tahun; sebuah catatan muhasabah diri.
Aku kerap membayangkan berdiri di sebuah tempat yang jauh dari riuh kota dan percekcokan dunia, kepalaku tidak lagi pening memikirkan banyak hal menyebalkan, aku akan melepaskan semua keresahan hingga yang tersisa bersamaku hanyalah hal-hal yang menenangkan. Ini tentang Humaitharah, daerah yang terletak di dekat pantai barat laut merah. Sebuah daerah terpencil yang dikelilingi perbukitan. Tempat Syaikhuna Imam Abu Hasan Asy-Syadzili Rahimahullah dimakamkan.
Butuh waktu berjam-jam sebelum akhirnya tiba di Humaitharah, melewati dan
melihat langsung beberapa daerah yang sebelumnya hanya kudapati dalam beberapa
buku bacaan; akan kuceritakan tentang perjalanan, biografi dan hal lainnya ditulisan
yang berbeda. Kali ini biarkan aku mengenang Humaitharah dengan segala
keindahannya, menguraikan rinduku padanya sebab tanpa bisa ditahan lagi
nyatanya hatiku sudah terpaut begitu erat padanya, bahkan sejak detik pertama aku
menginjakkan kaki disana.
Bus kami tiba di Humaitharah pukul tiga dini hari, sepanjang perjalanan
menuju kesana kami disuguhi keindahan konstelasi bintang seakan tak mau kalah
cahaya bulan pun ikut meramaikan, mengintip melalui celah-celah perbukitan
begitu takzim menerangi lintasan yang bus kami lewati. Kemudian dikepalaku berputar sebuah kejadian,
memori perjalanan hijrah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam beserta
sahabatnya menuju Yastrib; mengambil jalur utara memutar melintas menuju
Hudaibiyah, kemudian bergerak memutar ke arah barat menuju Al Juhfah hingga
tiba di Dzu Salam, sebelum akhirnya tiba di daerah Quba dengan menggunakan
unta; tunggangan yang tidak memiliki kursi empuk yang nyaman. Sebuah perjalanan
meninggalkan rumah, keluarga, tempat kelahiran, harta, dengan perbekalan
secukupnya, dengan pencahayaan ala kadarnya ditengah gurun pasir yang luasnya
tiada dijangkau mata. Lalu kutundukkan wajahku, merasa malu padamu wahai Nabiku,
sebab dengan semua kenyamanan yang aku peroleh masih saja aku mengeluh banyak
kekurangan. Mengalir air mataku merindukanmu, namun diam-diam telah kupunggungi
hampir semua teladanmu. Betapa diri ini memalukan, wahai sosok panutan…
Udara dingin Humaitharah menyambutku begitu aku
menginjakan kaki disana, kami memberi salam kepada Sayyidah Zakiyah Abdul
Muthalib. Sosok wanita mulia yang sabar, hatinya begitu lapang, bertekad kuat;
bahkan perbukitan batu yang mengelilingi Humaitharah tak bisa mengalahkankan
kuatnya tekad beliau untuk menebar kebaikan di daerah terpencil ini. Dapat
kurasakan Humaitharah dan seisinya membicarakan ketulusan khidmat Sayyidatuna
Zakiyah, mereka semua berbisik padaku; bahwa pada semua hal baik yang kau tebar
dengan benih cinta, kau sirami dengan kesabaran niscaya ia akan membuahkan hal
bermanfaat yang indah dan dengan kelapangan dadamu pada semua hal yang terjadi akan
menjadikannya manis saat dirasa. Lalu aku tertunduk malu, wahai diriku tidaklah
kau terlalu sering merasa tak sabar dengan ujian yang Allah berikan, berlari ke
jalanan lalu bertingkah paling kesakitan. Lupa bahwa Allah telah menjanjikan
kemudahan pada setiap kesulitan. Lupa bahwa disetiap masalah yang kau rasa
berat ada Allah yang menantimu untuk berdoa pada-Nya. Tidakkah kali ini kamu
ingat wahai diriku?
Mentari mengintip melalui celah perbukitan. Hawa
dingin mengambang. Langit biru sejauh mata memandang, awan berarak tipis seolah
dilukiskan oleh kuas secara acak namun indah. Selepas mengucap salam kepada
Imamuna Abu Hasan Asy Syadzili kami berjalan menuju bukit terdekat. Aku
berjalan setapak demi setapak, merasakan tajamnya bebatuan yang menyentuh alas
sepatuku, angin sejuk bertiup perlahan. Kemudian tanpa bisa dicegah dikepalaku
berputar memori ketika 73 lelaki dan dua wanita melakukan Bai'atul Aqabah
secara rahasia, mengendap-ngendap diantara dua celah bukit di dekat 'Aqabah,
mereka berkumpul dan menunggu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam untuk
mengucapkan janji mereka; sebuah bai'at yang menjadi landasan hijrahnya umat
muslim ke Madinah. Lagi-lagi aku tertunduk malu sebab tidak terhitung berapa
sering aku berpura-pura tidak tahu keinginan Allah, aku beralasan
bahwa kebaikan itu beragam, betapa diri ini terlalu mementingkan persoalan
duniawi, juga betapa diri ini terlalu sering melakukan kebaikan untuk memancing
puji dan kekaguman manusia lain. Tiada ikhlas yang mendasari, tiada syukur yang
kuucap, kugantungkan harapanku pada manusia tinggi-tinggi. Adakah hadirku
mengundang gelisah dihatimu, wahai Nabiku?
Ketika kakiku berhasil menjejakan kaki diatas
sana, aku terpana oleh keindahan Humaitharah. Pada bukit-bukit batu dengan
ornamen pasirnya. Pada kicau burungnya. Pada gemuruh anginnya. Sebuah orkestra
alam tiada tandingan. Aku telah jatuh cinta pada kedamaian yang Humaitharah
hadirkan ke dalam hatiku. Demi rasa nyaman yang telah Humaitharah berikan
padaku, kupejamkan mataku, kuhirup aroma Humaitharah sedalam-dalamnya. Meluangkan
waktuku untuk mengenang sesuatu yang menenangkan, sesuatu yang mustahil
kulupakan, sebuah kejernihan ruang, ketepatan waktu, bahasa yang diucapkan para
pecinta, nama yang disebutkan para perindu, takdir bagi yang yakin maupun ragu,
titik bersandar untuk semua keresahanku, sebuah tempat paling nyaman untuk
pulang. Disini aku bisa menuliskan nama-Mu di dinding, di bebatuan, di ranting
pepohonan, di udara, dalam seluruh semesta hidupku. Telah kucari kebahagianku
kemana-mana, lalu kini aku tersadar
bahwa satu-satunya ruang bahagia dan sembuh yang kubutuhkan adalah hati yang
bersih.
Matahari kian naik hangat cahayanya luruh di
dadaku. Lalu aku tertunduk, jantungku berdetak hebat mengingat satu ayat yang
guruku ajarkan saat umurku sembilan tahun:
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah
gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut
kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar
mereka berpikir." (Al-Hasyr/59:21)
"Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." (Allah) berfirman, "Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku." Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman." (Al-A'raf/ 7:143)
Lalu aku kian
tertunduk malu, diantara hamparan perbukitan yang meliuk indah, diantara gurun
pasir nan luas aku meminta maaf pada diriku sendiri. Wahai diriku, sudilah
kiranya kau memaafkan aku atas tahun-tahun yang berlalu begitu sia-sia, atas
kemalasanku dalam menjalankan ibadah, atas keenggananku bersyukur dan memuji
asma-Mu. Aku meminta maaf untuk hari-hari yang berlalu tanpa bershalawat kepada
manusia mulia, utusan terkasih, cahaya bagi seluruh alam, Baginda Nabi Muhammad
Shallalahu 'Alaihi Wassalam, untuk menjadi merasa paling berharga dibanding
manusia lain. Sungguh meminta maaf untuk semua pamrih, kemunafikan,
kemaksiatan, kesombongan, juga rupa-rupa topeng kepalsuan lainnya. Wahai
diriku, sudilah kiranya kau jabat tanganku, mari saling menguatkan untuk selalu
bersabar dan istiqomah atas semua usaha untuk menjadi manusia lebih baik lagi
dan lagi. Semoga engkau tak pernah bosan untuk selalu pulang
meski harus berkali-kali tersesat dijalan.
Ya Rabbi, tiada daya
dan upaya kecuali milik Engkau seluruhnya. Ampunilah segala dosaku, dosa kedua
orang tua, saudara-saudaraku, juga umat muslimin dan muslimaat. Terimakasih
atas segala nikmat-Mu yang tiada terhitung, jadikanlah kami sebagai hamba-Mu
yang senantiasa besyukur atas segala karunia-Mu, bersabar atas segala ujian
juga dari segala dosa, ridhoi lah kami dalam setiap hembusan nafas kami,
jadikanlah kami termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa Engkau beri
rahmat dan hidayah.
Teruntuk Nabiku yang lembut hati, kuucapkan rasa
syukurku atas kenikmatan dan keamanan yang kami rasakan ini. Tidak lagi kami
harus mengendap-ngendap menyembunyikan keimanan kami. Maafkan umatmu ini yang
tiada henti membuatmu cemas hati. Kuyakini, engkau masihlah sang penyabar yang
tak kenal batas dan tepian, masihlah sang penentram yang tak henti mengembangkan
senyuman, masihlah sang pemurah yang membahagiakan, masihlah sang penyayang
yang tak henti peduli mencemaskan umatnya hingga akhir zaman.
يا سيدي يا رسول الله خد بيدي
مالي سواك ولا الوي على احد
فانت نور الهدى في كل كائنة
وانت سر الندى يا خير معتمدي
كن لي شفيعا الى الرحمن من زللي
وامنن
علي بما لا كان في الحلد
وانظر بعين الرضا لي دائما ابدا
واستر بفضلك تقصيري مدى ابدا
Teruntuk Imamuna Abu Hasan Asy Syadzili, kusampaikan salam dari orang
tuaku untukmu Wahai Waliyullah. Tiada aku bisa singgah di Humaithara kecuali
telah engkau perkenankan untuk menginjakan kaki di tanahmu. Laisa min ajlii
anaa…
Teruntuk ummuna Sayyidah Zakiyah, terimakasih telah menerima kami dengan
begitu hangatnya. Terimakasih telah memperdengarkanku kisah ummuna Khadijah
Al Kubro; demi sahah Sayyidah Zakiyah yang diterangi cahaya bulan kelima belas
yang berpendar terang tadi malam, hilang sudah seluruh kehampaan dari dalam
diriku.
Teruntuk Humaitharah kuucapkan terimakasih telah mempersilakanku untuk
meminum seteguk air doamu. Merasakan keramahan pendudukmu. Terlebih telah
membiarkanku meresapi suasana hari besar Jumat disana.
Ya Rabb… terimakasih atas nikmat dan karuniamu sehingga kami bisa
menziarahi para ahlul bait, para auliya'illah, para syuhada, orang-orang shalih,
para sahabat juga tabi'in, serta ulama al-amilin. Semoga kelak kita bisa
mengunjungi beliau semua. Lagi.
" اللهم
اني اسالك حبك و حب من يحبك وحب عمل يقربني الى حبك "
Humaitharah, 15 Jumadil Awal 1444 H
Tulisan ini diselesaikan dalam perjalanan pulang menuju Kairo dan disempurnakan hari ini.



Komentar
Posting Komentar