Tentang Aku: Si sulung, rasa nyaman, dan menjaga ruang sunyiku sendirian.
Terkadang sebagai si sulung yang terlalu sering berada jauh dari rumah, aku ingin menjadi perempuan yang punya kontribusi untuk dunia. Menjelajah dunia lebih jauh, pergi ke suatu daerah ke daerah lain, disana aku bisa mengajari anak-anak membaca, pun ikut andil dalam kegiatan sosial lainnya, pada waktu-waktu tertentu aku bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah, menikmati makanan khas suatu daerah tertentu, duduk sembari minum secangkir teh bersama warga lokal, mendengarkan cerita-cerita mereka, tentang budaya, sejarah, permasalahan ekonomi, pendidikan, sosial, bahkan juga politik.
Namun, di lain waktu, aku hanya ingin menjadi si sulung yang biasa, yang
beristirahat dalam pelukan Ibu, setelah pergi mencari rumah, setelah kelelahan
berlarian mencari jalan pulang, setelah banyak pertanyaan hendak ke mana
menghantui di setiap sujud-sujud panjang. Aku ingin duduk bersama Ibu,
menemaninya ke pasar setelah itu kami bisa memasak di dapur bersama, menghadiri
pengajian, menziarahi makam Mbah setiap jum'at, sesekali membantu Ibu di sawah,
memetik hasil ladang, mengurus ternak, lalu selepas Ashar dan Maghrib aku bisa membantu
mengajari anak-anak mengaji Al-Quran.
Terkadang sebagai perempuan yang nantinya akan menikah, aku ingin
mempunyai pasangan yang visioner dan ideal, yang memiliki tujuan sama denganku,
sebuah tujuan-tujuan besar dan benar. Namun, di lain waktu aku hanya ingin
memiliki seseorang yang bisa kuajak menikmati hal-hal kecil yang sederhana,
duduk-duduk di teras sembari menatap awan yang bergerak cepat, menertawakan
lelucon receh yang lewat di laman media sosial bersama dan kami merasa senang
dengan hal remeh temeh itu, sebab
dibanding membicarakan tujuan-tujuan (besar dan benar) yang masih menjadi
misteri di masa depan, hidup yang aku dan dia akan jalani sehari-hari tentu
lebih penting. Pasangan yang aku merasa cukup dengannya, begitu pula
sebaliknya, yang menciptakan kenyamanan dari cara bicaranya, caranya menyimak
cerita, dari cara kami menghabiskan waktu bersama. Sesederhana itu.
Kemudian, jika Tuhan telah mempercayaiku untuk menjadi seorang Ibu,
kelak. Aku ingin tetap memiliki waktu sendiri, ruang untukku tetap berimajinasi
dengan bebas, tentang kelinci yang berlarian di padang rumput luas, ikan yang
berenang hingga samudera tak berbatas, imajinasi-imajinasi seperti saat aku
menulis tulisan ini. Namun, Ibuku sendiri bilang bahwa pilihan itu kelak tidak
lagi tersedia. Karena isi kepalaku
akan berganti menjadi taman bermain untuk anak-anak. Tawanya.
Teriakannya. Tangisnya. Akan mengisi hingga ke sudut kepalamu yang paling sunyi
sekalipun, setiap detik, menit, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian seorang
Ibu akan selalu mengingat tangis pun tawa anaknya. Keseharianku akan berubah, mengurus
anak-anak, memasak makanan kesukaan mereka, tas kecil yang biasa hanya berisi
dompet dan ponsel akan berubah menjadi berkantong-kantong kebutuhan anak-anak,
tisu basah, camilan, mainan, pakaian ganti, juga bla bla bla lainnya. Bu,
pensilku mana? Jepit rambut favoritku, hilang. Buku Tematik milikku dimana, ya,
Bu?
Jika dibayangkan, rasanya menjelajah dunia akan lebih mudah dibandingkan
dengan mengurus anak. Namun begitu, jika kubayangkan akan ada tangan-tangan
mungil yang menggenggam tanganku dengan begitu erat dan memanggilku 'Ibu',
kurasa semua kesulitan itu tidak menjadi soal. Meski aku akan kehilangan ruang
tanpa gangguan, meski ruang yang biasanya berisi aku dan pikiranku akan riuh 24
jam tanpa jeda sekalipun, lagi-lagi itu tidak akan menjadi persoalan.
Sebab aku
kehilangan, untuk mendapatkan yang lebih baik.
Ya, hidup nyatanya memang selalu tentang pilihan yang tentu pasti
menciptakan pertentangan. Namun, apapun yang terjadi. Sebanyak apapun pilihan yang menghadang. Mari
kita jalani hidup ini sesuai kemampuan, sebab lagi-lagi hidup ini tentang
penerimaan dengan lapang. Semoga kelak, melalui tulisan ini kamu (diriku
sendiri) bisa menemukan apa yang sebenarnya dirimu cari. Selamat memilih, ya!
—mari saling menemukan


Komentar
Posting Komentar